
Berita Madura — Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., menghadiri Dialog Keinsinyuran yang diselenggarakan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Jumat (13/3/2026), di Kampus ITS Sukolilo, Surabaya.
Kegiatan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama ini menjadi forum strategis untuk memperkuat peran insinyur dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. Sekitar 100 peserta hadir, terdiri dari akademisi, praktisi, organisasi profesi, hingga perwakilan dunia usaha.
Dalam forum tersebut, Kepala Bappeda Sumenep Arif Firmanto menegaskan bahwa peran insinyur tidak hanya terbatas pada aspek teknis, tetapi juga harus mampu berkontribusi dalam proses perumusan kebijakan pembangunan, khususnya di tingkat daerah.
“Insinyur saat ini dituntut tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu membaca kebutuhan masyarakat dan menerjemahkannya menjadi kebijakan pembangunan yang tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menilai, kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan pemerintah menjadi kunci dalam menciptakan pembangunan yang inovatif dan berkelanjutan.
Menurutnya, pemerintah daerah membutuhkan dukungan pemikiran berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan, mulai dari infrastruktur, ketahanan pangan, hingga transformasi digital.
“Forum seperti ini penting karena mempertemukan berbagai perspektif. Dari sini lahir gagasan yang bisa diimplementasikan dalam kebijakan daerah,” katanya.
Figur yang dikenal visioner tersebut juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang keinsinyuran. Ia berharap perguruan tinggi mampu melahirkan insinyur yang tidak hanya kompeten, tetapi juga berintegritas dan memiliki kepekaan sosial.
“Kita membutuhkan insinyur yang adaptif, inovatif, dan memiliki semangat pengabdian untuk membangun daerah,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai tantangan pembangunan ke depan semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan kolaboratif lintas sektor.

“Pemerintah, akademisi, dan praktisi harus duduk bersama merumuskan solusi berbasis data dan teknologi agar pembangunan benar-benar berdampak bagi masyarakat,” imbuhnya.
Diketahui, Arif Firmanto memperoleh gelar insinyur pada Maret 2024 dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2024–2027, Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, turut hadir sebagai keynote speaker yang menekankan pentingnya inovasi teknologi dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.
Selain itu, hadir pula Ir. Bastian S. Sihombing, M.Eng., IPU., yang menyoroti pentingnya penguatan kompetensi dan sertifikasi profesi insinyur serta implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran sebagai landasan hukum yang kuat.
Sementara itu, Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati menegaskan peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya inovasi teknologi yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan bangsa.
Di akhir kegiatan, Ir. Sutopo Kristanto, M.T., mantan Ketua Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITS (PP IKA ITS) periode 2019–2024, menegaskan bahwa profesi insinyur memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di Indonesia.
Ia menyebut, kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Kehadiran forum seperti ini sangat penting untuk mempertemukan para pemangku kepentingan agar dapat saling bertukar gagasan dan memperkuat kontribusi insinyur dalam pembangunan nasional,” pungkasnya. (*)