Stand Bappeda Sumenep Angkat Filosofi Keraton dan Mandapa, Simbol Perencanaan Pembangunan Berbasis Kearifan Lokal

by -31/08/2026
0 Shares

Berita Madura —  Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep menghadirkan konsep stand yang mengangkat nuansa Keraton dan Pendopo Sumenep sebagai representasi identitas, sejarah, serta kearifan lokal daerah, pada gelaran Madura Night Vaganza rangkaian event Madura Culture Festival yang berlangsung di GOR A. Yani Pangligur, Kamis, 27 Agustus 2026.

Konsep tersebut tidak hanya ditampilkan sebagai unsur estetika, tetapi memiliki makna filosofis yang menggambarkan keterkaitan antara budaya, tata kelola pemerintahan, dan perencanaan pembangunan daerah.

Salah satu elemen utama yang diangkat adalah Pendopo Sumenep atau yang dikenal dengan istilah mandapa dalam bahasa Madura. Istilah tersebut berasal dari kata mandap yang memiliki makna rendah.

Makna tersebut merepresentasikan nilai kerendahan hati, kedekatan, serta kebersamaan seorang pemimpin dengan masyarakat. Secara historis, pendopo juga menjadi ruang pertemuan antara penguasa dengan masyarakat, tempat berkumpul, bermusyawarah, menyampaikan aspirasi, dan membangun kesepakatan bersama.

Nilai tersebut dinilai selaras dengan peran Bappeda sebagai perangkat daerah yang mengoordinasikan proses perencanaan pembangunan secara partisipatif, terpadu, terarah, dan berkelanjutan.

Kepala Bappeda Kabupaten Sumenep, Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng., mengatakan, filosofi mandapa menjadi pesan penting bahwa pembangunan harus dirancang dengan semangat kebersamaan dan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal.

“Mandapa memiliki makna rendah. Filosofi ini mengajarkan tentang kerendahan hati, kedekatan dengan masyarakat, dan pentingnya ruang untuk bermusyawarah. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan semangat perencanaan pembangunan yang harus mendengar aspirasi dan kebutuhan masyarakat,” ujar Dr. Ir. Arif Firmanto, S.TP., M.Si., IPU., ASEAN Eng.

Selain filosofi tersebut, desain stand juga mengambil inspirasi dari arsitektur Pendopo Agung Keraton Sumenep yang memiliki atap berbentuk limasan sinom dan ditopang oleh tiang-tiang utama atau soko guru.

Unsur Keraton Sumenep dalam konsep stand menggambarkan tata nilai, keteraturan, kepemimpinan, dan kesinambungan sejarah. Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan dalam peran Bappeda untuk menata arah pembangunan agar memiliki tujuan yang jelas, terukur, selaras antarsektor, serta berorientasi pada kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat.

“Bagi kami, budaya bukan sekadar ornamen. Budaya adalah identitas dan pijakan dalam membangun daerah. Karena itu, konsep stand ini ingin menyampaikan bahwa perencanaan pembangunan Sumenep harus tetap berakar pada karakter, potensi, nilai, dan jati diri daerah,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran stand Bappeda diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk menyajikan informasi mengenai perencanaan pembangunan, tetapi juga menjadi representasi Bappeda sebagai rumah perencanaan pembangunan daerah.

“Bappeda adalah rumah tempat gagasan, aspirasi, data, dan arah kebijakan dipertemukan. Dari sanalah kita menyusun perencanaan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan merancang masa depan Sumenep,” ungkapnya.

Melalui konsep tersebut, stand Bappeda membawa pesan “merencanakan masa depan dengan berpijak pada akar budaya”. Keraton menjadi simbol jati diri, mandapa menjadi ruang musyawarah, sementara Bappeda menjadi rumah perencanaan yang menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan arah pembangunan masa depan.

“Keraton sebagai simbol jati diri, Pendopo sebagai ruang musyawarah, dan Bappeda sebagai rumah perencanaan. Semuanya bermuara pada satu semangat: berpijak pada budaya, menata pembangunan, dan merancang masa depan Sumenep,” pungkasnya. (*)

in