Min Haitsu La Yahtasib, Perjalanan Jurnalis Sumenep Menjadi Petugas Haji MCH 2026

by -22/06/2026
0 Shares

Bagian 1: Sebuah Telepon yang Mengubah Jalan Hidup

Ada sebuah kalimat dalam Al-Qur’an yang sejak lama saya yakini, tetapi baru benar-benar saya rasakan maknanya pada musim haji tahun 1447 Hijriah.

“Min haitsu la yahtasib.” Dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

Kalimat itu bukan sekadar rangkaian ayat yang sering terdengar dalam ceramah. Ia benar-benar menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Saya adalah M. Hariri, seorang jurnalis TV9 Nusantara yang bertugas di Kabupaten Sumenep, ujung timur Pulau Madura, Jawa Timur. Sehari-hari, rutinitas saya sederhana: mengejar narasumber, meliput peristiwa, menulis berita, mengirim video, lalu bersiap untuk liputan berikutnya.

Sebagai wartawan daerah, saya terbiasa bekerja jauh dari sorotan. Liputan tentang pemerintahan, pendidikan, sosial, hingga budaya menjadi keseharian. Tidak pernah terlintas bahwa suatu hari saya akan berada ribuan kilometer dari kampung halaman sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Bahkan untuk bermimpi pun, tidak pernah.

Semuanya bermula pada Rabu, 10 Desember 2025. Saat itu saya sedang berada di Sekretariat Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS) bersama Bendahara, Fathol Alif. Telepon dari kantor TV9 tiba-tiba berdering.

Dari ujung sambungan, saya mendapat kabar yang tidak pernah terbayangkan: saya diminta mendaftarkan diri sebagai calon petugas haji di Tusi Media Center Haji.

Saya terdiam.

Pertanyaan itu muncul berulang di kepala: “Benarkah saya?”

Sebagai wartawan daerah, kesempatan itu terasa begitu jauh. Namun ternyata, pintu itu benar-benar terbuka.

Saya tidak langsung menjawab. Saya meminta waktu untuk berkonsultasi dengan ibu dan istri. Setelah mendapat dukungan dan doa dari keduanya, keputusan saya bulat: mencoba mendaftar.

Berkas demi berkas saya siapkan. Semua proses dijalani dengan keyakinan sederhana: berusaha, selebihnya saya serahkan kepada Allah SWT.

Ujian Dimulai di Jakarta

Seleksi berlangsung di Jakarta. Di sinilah ujian pertama datang.

Saat mengikuti tes tertulis dan wawancara, kabar dari rumah membuat hati saya goyah: anak kedua saya sakit.

Sebagai ayah, saya ingin segera pulang. Namun di sisi lain, saya sedang berada dalam proses seleksi yang tidak bisa ditinggalkan.

Hari itu menjadi salah satu hari terberat dalam hidup saya.

Saya memilih menyelesaikan seluruh tahapan tes, lalu segera kembali ke Sumenep. Namun perjalanan tidak berjalan mudah. Transportasi mengalami keterlambatan, dan waktu tempuh menjadi lebih lama dari seharusnya.

Sepanjang perjalanan, pikiran saya hanya tertuju pada kondisi anak di rumah.

Sesampainya di Sumenep, saya hanya sempat beristirahat satu malam. Keesokan harinya, anak saya harus dirawat di rumah sakit karena kondisinya memburuk.

Di ruang itulah saya belajar arti berserah diri. Ada banyak hal yang berada di luar kendali manusia. Yang bisa dilakukan hanya berusaha, berdoa, dan menerima.

Di tengah situasi itu, istri saya sempat berkata, “kayaknya Abi bakal lulus.”

Saat itu saya menganggapnya sebagai penyemangat semata.

Saya kembali menjalani aktivitas seperti biasa sebagai jurnalis, tanpa banyak berharap.

Kabar yang Tidak Diduga

Hingga akhir Desember 2025, kabar itu datang.

Pagi itu, saat sedang berjalan santai bersama anak pertama, pesan WhatsApp masuk dari Kementerian Haji.

Saya dinyatakan lulus.

Saya membaca pesan itu berkali-kali, memastikan nama saya tidak salah.

Perasaan bercampur: bahagia, haru, dan tidak percaya.

Saya hanya bisa bersujud syukur.

Dalam hati saya bertanya: “Ya Allah, benarkah Engkau memilih saya?”

Kelulusan itu tidak saya anggap sebagai prestasi. Ini adalah amanah.

Amanah yang bukan hanya harus dipertanggungjawabkan kepada negara, tetapi juga kepada Allah SWT.

Pelatihan dan Ujian Kecil yang Terus Datang

Di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, saya bertemu ratusan petugas dari seluruh Indonesia: dokter, perawat, pembimbing ibadah, petugas transportasi, hingga Media Center Haji.

Kami datang dengan latar berbeda, tetapi satu tujuan: melayani tamu Allah.

Pelatihan berlangsung sangat padat. Fisik, mental, dan disiplin diuji setiap hari.

Di tengah pelatihan, ujian kembali datang. Telepon genggam yang menjadi alat kerja utama saya terjatuh dan rusak.

Namun dalam waktu singkat, perangkat itu berhasil diperbaiki, dan pelatihan bisa dilanjutkan.

Di titik itu saya memahami satu hal: setiap amanah selalu diiringi ujian.

Bagian 2: Ketika Kamera Diletakkan, Saatnya Melayani Tamu Allah

18 Mei 2026 menjadi hari yang tidak akan pernah saya lupakan.

Hari itu saya berangkat ke Arab Saudi sebagai PPIH Arab Saudi 2026.

Di dalam pesawat, pertanyaan yang sama terus muncul: “Benarkah saya menuju Tanah Suci sebagai petugas?”

Sesampainya di Madinah dan Makkah, kami langsung mengikuti orientasi dan pembagian tugas.

Beberapa hari kemudian, kedatangan jemaah gelombang pertama dimulai di Bandara Madinah.

Di sinilah tugas utama dimulai: meliput, menulis, mengirim berita, dan mendokumentasikan kedatangan jemaah.

Namun kenyataan di lapangan berbeda dari bayangan awal.

Setelah liputan selesai, kamera dan mikrofon kami letakkan. Tanpa diminta, kami langsung bergabung membantu layanan jemaah.

Kami mendorong kursi roda, mengangkat barang, mengarahkan jemaah lansia, dan memastikan mereka tidak kebingungan.

Tidak ada sekat profesi di sana.

Yang ada hanya satu hal: mereka adalah tamu Allah.

Dari Wartawan Menjadi Pelayan

Fase Madinah berlangsung sekitar 15 hari. Setelah itu kami bergeser ke Jeddah.

Cuaca lebih panas, jemaah lebih padat, dan ritme kerja semakin berat.

Namun semangat justru semakin kuat.

Kami membantu semua hal yang bisa dilakukan: dari urusan kecil hingga kebutuhan mendesak jemaah.

Di tengah perjalanan itu, saya menyadari satu hal penting: saya tidak lagi sekadar jurnalis yang meliput, tetapi juga bagian dari pelayanan.

Bagian 3: Arafah, Muzdalifah, Mina

Memasuki Zulhijah, kami mendapat tugas sebagai Satgas Arafah.

Di Markaz 49, kami harus memastikan seluruh tenda siap untuk ribuan jemaah.

Pendingin, kasur, listrik, hingga daftar nama harus dipastikan lengkap.

Di bawah terik matahari Arafah, tidak ada yang mengeluh. Semua bekerja dalam diam dan tanggung jawab.

Pada 9 Zulhijah, wukuf dimulai.

Arus jemaah bergerak tanpa henti menuju Muzdalifah dan Mina. Kami tetap siaga memastikan semua berjalan aman.

Malam hari, kami kembali menyisir seluruh tenda untuk memastikan tidak ada jemaah tertinggal.

Perjalanan berlanjut menuju Mina.

Dengan beban perlengkapan di punggung, saya berjalan sekitar empat kilometer menuju Jamarat. Lelah, haus, dan pegal tidak lagi terasa dominan.

Yang ada hanya keyakinan bahwa Allah memberi kekuatan.

Setelah lontar jumrah, kami kembali berjalan menuju penginapan.

Namun tugas belum selesai. Hari-hari tasyrik tetap diisi dengan pelayanan jemaah.

Bagian 4: Ujian yang Tidak Terduga

Di tengah tugas di Tanah Suci, kabar dari rumah datang.

Istri saya mengalami kecelakaan.

Saat itu saya hanya bisa diam. Jarak ribuan kilometer membuat saya tidak bisa berbuat apa pun selain berdoa.

Saya menuju Masjid Nabawi, memohon kepada Allah agar istri saya diberikan kesembuhan.

Hari-hari berikutnya saya terus memantau kondisinya. Alhamdulillah, perlahan ia membaik.

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa setiap amanah selalu membawa ujian yang tidak terduga.

Penutup: Dari Arah yang Tidak Disangka-Sangka

Kini, ketika seluruh perjalanan itu saya lihat kembali, semuanya terasa seperti mimpi.

Saya hanyalah jurnalis daerah dari Sumenep. Tidak pernah membayangkan berdiri di tengah jutaan jemaah di Arafah, atau membantu pelayanan di bandara Arab Saudi.

Namun Allah menunjukkan satu hal: jalan tidak ditentukan oleh tempat seseorang berasal, tetapi oleh niat dan kesungguhan.

Menjadi petugas haji bukan tentang seragam atau status. Ini tentang keikhlasan melayani.

Tentang belajar mendahulukan orang lain.

Tentang tetap berjalan meski lelah.

Tentang tetap tersenyum meski diuji.

Dan di akhir perjalanan ini, saya hanya bisa bersyukur.

Karena saya menjadi saksi bahwa janji Allah itu benar:

“Min haitsu la yahtasib.” Dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

Oleh: M. Hariri, Petugas Media Center Haji Daerah Kerja Bandara, PPIH Arab Saudi 2026

in , ,